logo blog

HISBU is the best


Madrasah Bustanul Ulum Pagerharjo
Azza, Wahyu, Heri (Pengurus HISBU MA 2015/2016)

Masih menjadi idaman. Kalimat itu yang terbesit ketika melihat Pengurus HISBU sedang berkegiatan di Madrasah. Sebuah kebanggan tersendiri bagi mereka yang menjabat sebagai Pengurus Himpunan Siswa Bustanul Ulum. Selain aktif dalam proses belajar mengajar di kelas, mereka para punggawa HISBU mengaplikasikan keterampilan dan kreatifitas mereka diluar jam sekolah dengan kegiatan-kegiatan positif untuk pengembangan siswa.

Pada tahun ini, uforia HISBU mulai akan bergenderang, dengan susunan agenda kegiatan yang akan segera dilaksanakan. Terlebih dengan aktifnya pengurus HISBU mulai dari tingkat Ibtida’iyah, Tsanawiyah hingga Aliyah. Dibawah bimbingan Bapak Moh. Sholeh, S.Pd.I (MI), Iksan Sunaryo, S.Pd.I (MTs) dan Nur Salim, S. Pd. I (MA), kedepan siap membawa generasi Yi Ubaidah untuk mampu berproses menjadi “zaidun” yang di idam-idamkan mampu membawa perubahan yang signifikan bagi Madrasah Bustanul Ulum Pagerharjo.
Himpunan Siswa Bustanul Ulum Pagerharjo
Pengurus HISBU MA Bersama Pembina Nur Salim, S.Pd.I
 
Himpunan Siswa Bustanul Ulum Pagerharjo
Pengurus HISBU MTs Bersama Pembina Iksan Sunaryo, S.Pd.I
Himpunan Siswa Bustanul Ulum Pagerharjo
Pengurus HISBU MI Bersama Pembina Moh. Sholeh, S.Pd.I
Beberapa kegiatan Unggulan yang berkembang baru-baru ini adalah Kegiatan Forum Diskusi Santri, bahsul Masa’il Tingkat Kabupaten dan Study Banding Kegiatan OSIS di Lembaga Terkait. Tetapi untuk kegiatan rutinitas juga tidak ketinggalan juga. Bagi mereka tiada hari tanpa kegiatan. Dan bagi pembina mereka selalu bilang “pantang menolak tugas”. Selamat untuk seluruh pengurus HISBU, jadilah kebanggan untuk Madrasahmu, jadilah bintang yang bersinar untuk Bustanul Ulum.

Salam HISBU ‘06/ ’07.

Bangga Menjadi Siswa yang Produktif dan Berprestasi

Bangga Menjadi Siswa yang Produktif dan Berprestasi
Banyak siswa yang beranggapan bahwa masa sekolah adalah masa yang menggembirakan. Hal ini benar adanya, banyak orang dewasa yang merasakan hal ini juga, ketika mereka sudah bergelut dengan permasalahan kerja dan kehidupan, rasanya masa sekolah ada kenangan yang ingin diungkap kembali. Tetapi dari kenangan anak sekolah, kelas 2 adalah kelas yang dianggap fantastis, dengan alasan kalau kelas 1 masih kekanak-kanakan, dan kelas 3 sudah disibukkan dengan ujian. Oleh sebab itu kehebohan anak sekolah biasanya dilakukan ketika kelas 2.

Madrasah Bustanul Ulum Pagerharjo, adalah salah satu sekolah yang masih mempercayakan kegiatan sekolah kepada anak-anak kelas 2, terkhusus kelas 2 aliyah. Pengurus OSIS yang diberi nama HISBU (Himpunan Siswa Bustanul Ulum) dibentuk ketika anak-anak kelas 1 naik ke kelas 2 pada awal tahun pelajaran. Akan tetapi disini banyak sekali polemik yang dihadapi oleh anak-anak. Mereka bingung untuk memilih, konsentrasi di pelajaran apa aktif di kegiatan sekolah?? Sehingga pemikiran seperti ini hampir selalu membanjiri pemikiran siswa pada saat itu.

Berdasarkan survei yang sudah ada, ternyata menjadi pengurus HISBU mampu membentuk karakter siswa yang lebih dari yang lain. Hal ini dibuktikan dengan pencapaian potensi dan ketrampilan yang lebih, sehingga justru mereka mampu menunjang pembelajaran bagi mereka yang benar-benar aktif dalam kegiatan. Hal ini sudah dirasakan oleh Pengurus HISBU Tahun Pelajaran 2014/2015, setelah masuk semester 2, mereka mampu mengendalikan pelajaran dan kegiatan, disamping mereka sukses di pembelajaran mereka juga tetap mendapatkan predikat siswa aktif dan produktif, sehingga kepuasan keduanya mampu diwujudkan.

Hal ini tampak pada kegiatan rutinitas salah satu Departemen HISBU, yakni Bidang Kebangsaan dan Ketahanan Negara, yang anggota timnya selalu kompak untuk menegakkan ketertiban dan keamanan madrasah, baik didalam maupun dilingkungan madrasah. Serta mengadakan kegiatan upacara bendera dan apel untuk menyampaikan informasi kepada seluruh siswa, serta menanamkan jiwa patriot dan kebangsaan pada diri siswa. Langkah tegap para pengibar bendera dan pemimpin upacara mampu membius peserta upacara untuk hikmat melaksanakan kegiatan upacara.

Sukses semua kegiatan HISBU (Himpunan Siswa Bustanul Ulum) Tahun Pelajaran 2014/2015. Semoga amal bhakti kalian bermanfaat untuk kehidupan di masa mendatang. Amin.

Sekolah Bisa Membunuh Kreatifitas Anak ?

Sekolah Bisa Membunuh Kreatifitas Anak ?
Diakui ataupun tidak, nilai nilai di sekolahan tak menjamin kesuksesan siswanya di masa mendatang. Bisa jadi nilai siswa yang sekarang bagus dan sesuai dengan harapan guru, nantinya akan gagal dan tak mampu menjadi orang yang berhasil. Tetapi sebaliknya, seseorang yang bodoh dan gagal karena nilainya buruk masih sangat mungkin menjadi orang sukses.

Kalau kenyataannya seperti ini, siapa lagi yang berani mengatakan jika kesuksesan seseorang itu tergantung pada hasil nilai seseorang saat masih sekolah ?

Sebelum kita melangkah pembahasan yang lebih mendalam, alangkah baiknya kita simak dulu sebuah rangkuman pembicaraan yang pernah di utarakan oleh Dedy Corbuzier di Hitam Putih Trans7.

 "kamu gambar apa?" tanya Deddy Corbuzier kepada anak kecil yang ditemuinya saat mengantarkan putranya ke sekolah.

"Menggambar Tuhan", kata anak kecil yang masih polos itu.

"Memangnya kamu tahu bentuk Tuhan seperti apa?" tanya Dedy kembali,

"Makanya tunggu sampai saya selesai menggambar dulu, nanti pasti tahu," jawab si gadis kecil yang belum diketahui namanya oleh Dedy Corbuzier.

Begitulah anak kecil, dengan kepolosannya dia selalu berhasil melakukan apa yang diinginkannya. Tak peduli baik atau buruk, salah atau benar. Yang ia tahu, dia harus terus berkarya dan berkarya. Oleh karena itu jadi tak heraan jika keberhasilan belajar anak kecil lebih cepat dari orang dewasa.

Sejatinya semua anak terlahir sebagai orang yang luar biasa. Tapi ketika sudah dewasa, semua itu seolah dihilangkan oleh pendidikan dan pelajaran yang melarang kita untuk melakukan hal yang salah di sekolah.

Selain menjadikan anak takut salah, sekolah juga telah berhasil mendikte siswa-siswanya dalam segala hal sehingga siswa tak mampu lagi menjadi insan yang mandiri dan merdeka layaknya esensi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara.

Apapun harus sesuai perkataan guru, pokoknya tak boleh ada yang membantahnya. Membantah berarti mencari masalah !. Ironisnya banyak siswa yang memilih untuk mencari posisi aman untuk itu. Akibatnya pelajaran hanya terjalin satu arah, seperti teko dan cangkir. Hanya bisa menerima tanpa bisa menolaknya. Seperti robot yang bisa bergerak ketika tombol On ditekan oleh pemiliknya (guru dan semua pihak sekolah).

Saya hanya ingin menegaskan kepada semuanya bahwa sistem di sekolah harus diubah. Tidak boleh membuat orang tertekan, sekolah tak boleh lagi menjadikan siswa-siswanya takut untuk berkreatifitas. Mereka harus bebas dan diperlakukan layaknya manusia yang berakal dan yang mempunyai potensi. Tidak seperti hewan, robot dan barang mati lainnya.

Sumber : Kutipan majalah Paradigma Stain Kudus Edisi 26